Selasa, 28 Mei 2013
Satuan Acara Penyuluhan Cara Mendidik anak usia remaja awal
TUGAS
PROMOSI KESEHATAN
SATUAN ACARA PENNYULUHAN
TENTANG CARA KELUARGA MENDIDIK ANAK USIA REMAJA UMUR 12-15 Tahun
Disusun Oleh :
Melta Oktavia (120993)
TINGKAT 1.A
AKADEMI KEBIDANAN ALIFAH PADANG
T.A 2012/2013
Satuan Acara Penyuluhan
OLeh :
MELTA OKTAVIA
IDENTITAS
• Pokok Bahasan : Cara Mengatasi Kenalan Remaja dan Cara Mendidik Anak Remaja dan
• Sub Pokok bahasan : Remaja Awal (13th-15th)
• Sasaran : Orang tua
• Hari / tanggal : 28 Mei 2013
• Waktu : 07.00 – 09.00 wib
• Tempat : Balai Desa Muaro Takung, Kec. Kamang Baru, Kab.Sijunjng
• Penyuluhan : Pendidikan dan Kesehatan pada Remaja awal
A. Latar Belakang
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.
Usia Remaja adalah usia yang labil dan sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan, apalagi teman sebaya sangat besar pengaruh terhadap prilaku anak di usia remaja. Di masa ini sangat dibutuhkan pengawasan dan bimbingan dari orangtua, baik itu dari cara bertindak, bersikap, dan memilih teman. Pada zaman sekarang banyak kita lihat perbuatan, sikap, dan tindakan anak usia remaja yang tidak sesuai dengan aturan dan malah telah berbuat tindak criminal, asusila dan lain sebagainya.
Di sini dapat kita lihat betapa pentingnya peran orangtua dalam mendidik anak usia remaja. Semua orangtua sangat menginginkan anak-anaknya menjadi anak yang sholeh sholehah, pintar, sopan, berbakti pada orang tua, penurut dan lain sebagainya. Hal tersebut tentunya semua tergantung dari didikan orang tua. Karena anak mau jadi apa tergantung orang tuanya. Dari permasalahan tersebut saya akan membahas tentang beberapa cara mendidik anak usia remaja menjadi baik dan positif.
Tujuan
Tujuan Umum
Membantu Negara dalam mempersiapkan generasi muda yang berkualitas.
Memberi wawasan kepada seluruh masyarakat tentang pendidikan yang baik untuk anak usia Remaja
Tujuan Khusus
Membantu orangtua dalam mendidik anak usia remaja yang baik dan benar
Memberi wawasan kepada orangtua dalam mendidik anak usia remaja yang baik dan positif.
B. Pelaksanaan Kegiatan
• Topik / judul kegiatan : Cara Mengatasi Kenalan Remaja Cara Mendidik Anak Usia Remaja awal/ Penyuluhan
• Sasaran atau target : Orangtua yang memiliki anak remaja, serta remaja dan masyarakat
• Metode : Ceramah dan Tanya jawab
• Media dan alat :
Flip Chart
Leaflet dll
• Waktu dan tempat
Waktu : 07.00-09.00 Wib
Tempat : Balai Desa Muaro Takung, Kec. Kamang Baru, Kab. Sijunjung
• Materi : ( Terlampir)
• Setting tempat :
Keterangan :
= Audien = Penyaji = Moderator
= Fasilitator = Observer
• Pelaksana
Moderator : Yayuk Restiani
Penyaji : Melta Oktavia
Observer : Nila Islamiat
Fasilitator : Aznila Fitri, Annisa Rq Ardi, Aprina Liza, Irsa Safitri
Tugas pelaksana
Moderator :
- Memimpin pelaksana penyuluhan, memotivasi anggota untuk mengikuti penyuluhan dengan tertib dan semangat.
- Sebagai katalisator,yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan menciptakan suasana untuk memotivasi anggota.
- Mengarahkan proses penyuluhan ke arah pencapaian tujuan.
- Menciptakan suasana yang mendukung.
Penyaji :
- Menyampaikan materi penyuluhan kepada audiens.
Observer :
- Mengamati kegiatan penyuluhan apakah telah sesuai dengan rencana serta segala faktor pendukung dan faktor penghambat jalannya penyuluhan
- Mencatat dan membuat laporan penyuluhan
Fasilitator :
- Menyediakan sarana dan prasarana.
- Mencegah terjadinya hambatan dalam penyuluhan.
- Memotivasi audien untuk mengajukan pertanyaan.
o Staregi Pelaksana
No Kegiatan Mahasiswa Kegiatan Audiens Waktu
1
2
3 Pembukaan
• Mengucapkan salam
• Memperkenalkan mahasiswa dan pembimbing
• Menjelaskan tujuan dan waktu
• Evaluasi validasi tentang keadaan audiens
Pelaksanaan
• Persepsi audiens cara mendidik anak di usia dini tanpa menggunakan unsur kekerasan
• Reinforcement
• Menjelaskan tentang langkah-langkah untuk mendidik anak di usia dini, mendidik anak agar mandiri, serta dampak mendidik anak dengan kekerasan.
• Memberi kesempatan kepada audiens memberikan pertanyaan
• Menjawab pertanyaan audiens
• Penutup
• Menyimpulkan materi bersama audiens
• Melakukan evaluasi
Memberikan kesimpulan dan mengucapkan salam
• Menjawab
• Mendengarkan
• Mendengarkan
• Mengemukakan pendapat
• Mendengarkan
• Mendengarkan
• Bertanya
• Mendengarkan
• Menyimpulkan materi bersama mahasiswa
• Menjawab pertanyaan
• Menjawab salam
5 menit
15 menit
5 menit
15 menit
5 menit
• Evaluasi
• Evaluasi struktur
Peserta yang hadir,Setting tempat yang aman,nyaman dan tenang.
• Evaluasi proses
Tidak ada audiens yang meninggalkan ruangan.
Peserta mampu memberi tanggapan.
• Evaluasi Hasil
Peserta dapat menyebutkan dan menjelaskan materi yang telah kita berikan
CARA MENGATASI KENALAN ANAK REMAJA DAN MENDIDIKNYA DENGAN BAIK DAN BENAR
CARA MENGATASI KENALAN REMAJA
Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa. Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang paling sesuai baginya dan inipun sering dilakukan melalui metoda coba-coba walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering menimbulkan kekuatiran serta perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan menyenangkan teman sebayanya. Hal ini karena mereka semua memang sama-sama masih dalam masa mencari identitas. Kesalahan-kesalahan yang menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai kenakalan remaja.
PEMBAHASAN
Masalah kenakalan remaja mulai mendapat perhatian yang khusus sejak dibentuknya suatu peradilan untuk anak-anak nakal atau juvenile court pada tahun 1899 di Cook County, Illinois, Amerika Serikat. Pada waktu itu, peradilan tersebut berfungsi sebagai pengganti orangtua si anak - in loco parentis - yang memutuskan perkara untuk kepentingan si anak dan masyarakat. Dalam pandangan umum, kenakalan anak dibawah umur 13 tahun masih dianggap wajar, sedangkan kenakalan anak di atas usia 18 tahun dianggap merupakan salah satu bentuk kejahatan. Dalam tulisan ini hanya akan dibahas kenakalan yang dilakukan oleh para remaja dalam usia 13 sampai dengan 18 tahun.
Kenakalan remaja dapat ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah:
1. PENGARUH KAWAN SEPERMAINAN
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas. Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya. Di jaman sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal, kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan, pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi, maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat terlarang, dan lain sebagainya.
Pengaruh kawan ini memang cukup besar. Dalam Mangala Sutta, Sang Buddha bersabda: "Tak bergaul dengan orang tak bijaksana, bergaul dengan mereka yang bijaksana, itulah Berkah Utama". Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Sedangkan bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan sedemikian besarnya pengaruh pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja, khususnya. Oleh karena itu, orangtua para remaja hendaknya berhati-hati dan bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya.
Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan pula. Sebab dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi waktu anak ‘kluyuran’ tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan teman yang baik.
Dalam Digha Nikaya III, 188, Sang Buddha memberikan petunjuk tentang kriteria teman baik yaitu mereka yang memberikan perlindungan apabila kita kurang hati-hati, menjaga barang-barang dan harta kita apabila kita lengah, memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya, tidak pergi meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan, dan membantu sanak keluarga kita.
Sebaliknya, dalam Digha Nikaya III, 182 diterangkan pula kriteria teman yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk menjadi penjudi, orang yang tidak bermoral, pemabuk, penipu, dan pelanggar hukum.
2. PENDIDIKAN
Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama Buddha yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia. Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua, Agama Buddha.
Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat, orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi bersama dengan kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang.
Anak pasti juga mempunyai hobi tertentu. Seperti yang telah disinggung di atas, biarkanlah anak memilih jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun bakat dan hobi si anak. Tetapi bila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya, maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai dengan pilihannya, sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh dilakukan bila tugas utama telah selesai dikerjakan.
3. PENGGUNAAN WAKTU LUANG
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka lingkungan dapat terganggu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya. Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya, ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat bius, dan sebagainya.
Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya. Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus. Tersesat.
Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan cinta kasih bahwa sikap iseng negatif seperti itu akan merugikan dirinya sendiri, orangtua, maupun lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan, orangtua hendaknya hanya membatasi keisengan mereka. Jangan terlalu ikut campur dengan urusan remaja. Ada kemungkinan, keisengan remaja adalah semacam ‘refreshing’ atas kejenuhannya dengan urusan tugas-tugas sekolah. Dan apabila anak senang berkelahi, orangtua dapat memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu kelompok olahraga beladiri.
Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya pula orangtua ikut memikirkannya pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita oleh kesibukan sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan materi remaja saja. Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan batinnya. Remaja, selain membutuhkan materi, sebenarnya juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, waktu luang yang dimiliki remaja dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi. Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga. Kegiatan keluarga dapat berupa pembacaan Paritta bersama di Cetiya dalam rumah ataupun melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble, monopoli, dan lain sebagainya. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar pikiran dan berbicara dari hati ke hati. Misalnya, dengan makan malam bersama atau duduk santai di ruang keluarga. Pada hari Minggu seluruh anggota keluarga dapat diajak kebaktian di Vihãra setempat. Mengikuti kebaktian, selain memperbaiki pola pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha Dhamma juga dapat menjadi sarana rekreasi. Hal ini dapat terjadi karena di Vihãra kita dapat berjumpa dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para Bhikkhu maupun pandita yang dijumpai. Selain itu, dihari libur, seluruh anggota keluarga dapat bersama-sama pergi berenang, jalan-jalan ke taman ria atau mal, dan lain sebagainya.
4. UANG SAKU
Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup ‘Jalan tengah’ seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.
Ajarkan pula anak untuk mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat dengan kerja dan semangat.
Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan. Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat menimbulkan masalah. Yaitu:
1. Anak menjadi boros
2. Anak tidak menghargai uang, dan
3. Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang.
5. PERILAKU SEKSUAL
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan. Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan. Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan terus berlangsung selamanya.
Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang bermanfaat.
Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua dengan anak. Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan masalahnya kepada orangtua.
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan seksual. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan Buddha Dhamma. Sang Buddha telah memberikan pedoman untuk bergaul yang tentunya juga sesuai untuk pegangan hidup para remaja. Mereka hendaknya dididik selalu ingat dan melaksanakan Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis atau lima latihan kemoralan ini adalah latihan untuk menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan, dan mabuk-mabukan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat, remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.
KIAT POKOK MENGATASI KENAKALAN REMAJA
Sebagian besar orangtua di jaman sekarang sangat sibuk mencari nafkah. Mereka sudah tidak mempunyai banyak kesempatan untuk dapat mengikuti terus kemana pun anak-anaknya pergi. Padahal, kenakalan remaja banyak bersumber dari pergaulan. Oleh karena itu, orangtua hendaknya dapat memberikan inti pendidikan kepada para remaja. Inti pendidikan adalah sebuah pedoman dasar pergaulan yang singkat, padat, dan mudah diingat serta mudah dilaksanakan. Pedoman ini telah diberikan oleh Sang Buddha dalam Kitab Suci Tipitaka, Anguttara Nikaya I, 51.
Dengan memberikan inti pendidikan ini, kemana saja anak pergi ia akan selalu ingat pesan orangtua dan dapat menjaga dirinya sendiri. Anak menjadi mandiri dan dapat dipercaya, karena dirinya sendirinyalah yang akan mengendalikan dirinya sendiri. Selama seseorang masih memerlukan pihak lain untuk mengendalikan dirinya sendiri, selama itu pula ia akan berpotensi melanggar peraturan bila si pengendali tidak berada di dekatnya.
Inti pendidikan ini terdiri dari dua hal yaitu :
• HIRI = MALU BERBUAT JAHAT
Benteng penjaga pertama agar remaja tidak salah langkah dalam hidup ini adalah menumbuhkan hiri atau rasa malu melakukan perbuatan yang tidak benar atau jahat.
Dalam memberikan pendidikan, orangtua hendaknya dengan tegas dapat menunjukkan kepada anak perbedaan dan akibat dari perbuatan baik dan tidak baik atau perbuatan benar dan tidak benar. Kejelasan orangtua menerangkan hal ini akan dapat menghilangkan keraguan anak dalam mengambil keputusan. Keputusan untuk memilih kebaikan dan meninggalkan kejahatan. Penjelasan akan hal ini sebaiknya diberikan sejak dini. Semakin awal semakin baik.
Berikanlah pengertian dan teladan tentang latihan kemoralan. Berikanlah kesempatan anak agar dapat meniru perilaku kebajikan orangtuanya. Ajarkan dan didiklah mereka untuk tidak melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan, dan mabuk-mabukan. Gunakanlah acara-acara di televisi sebagai alat pengajaran. Tunjukkan kepada mereka bahwa kejahatan tidak akan pernah menang. Kejahatan akan musnah pada akhirnya. Sebaliknya, walaupun kebaikan kadang menderita di awalnya akhirnya akan memperoleh kebahagiaan juga.
Apabila anak sudah dapat dengan jelas membedakan kebaikan dan keburukan, tahap berikutnya adalah menumbuhkan rasa malu untuk melakukan kejahatan. Kondisikanlah pikiran anak punya rasa malu, merasa tidak pantas melakukan pelanggaran peraturan kemoralan baik yang diberikan oleh Sang Buddha maupun oleh masyarakat lingkungan. Mengkondisikan munculnya rasa malu dapat menggunakan cara seperti ketika orangtua mengenalkan pakaian kepada anak-anaknya. Orangtua selalu berusaha memberikan pakaian yang layak untuk anak-anaknya. Namun, apabila suatu saat anak mengenakan pakaian dengan tidak pantas atau mungkin tersingkap sedikit, orangtua segera membenahinya dan mengatakan, menegaskan bahwa hal itu memalukan. Sikap itu masih berkenaan dengan masalah pakaian fisik. Pakaian batin pun juga demikian. Orangtua bila mengetahui bahwa anaknya melakukan suatu perbuatan yang tidak pantas maka katakan segera bahwa hal itu memalukan. Kemudian berikanlah saran agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Bila perbuatan itu masih diulang, berilah sanksi. Berilah hukuman yang mendidik bila perbuatan itu tetap diulang. Usahakan dengan berbagai cara agar anak tidak lagi mengulang perbuatan yang tidak baik itu.
• OTTAPPA = TAKUT AKIBAT PERBUATAN JAHAT
Apabila anak bertambah besar, orangtua selain menunjukkan bahwa suatu perbuatan tertentu tidak pantas, memalukan untuk dilakukan oleh anaknya, maka orangtua dapat meningkatkannya dengan memberikan uraian tentang akibat perbuatan buruk yang dilakukan anaknya. Akibat buruk terutama adalah yang diterima oleh si anak sendiri, kemudian terangkan pula dampak negatif yang akan diterima pula oleh orangtua, keluarganya serta lingkungannya. Orangtua dapat memberikan perumpamaan bahwa bila diri sendiri tidak ingin dicubit, maka janganlah mencubit orang lain. Artinya, apabila kita tidak senang terhadap suatu perbuatan tertentu, sebenarnya hampir semua orang pun bahkan semua mahluk cenderung tidak suka pula dengan hal itu. Rata-rata semua mahluk, dalam hal ini, manusia memiliki perasaan serupa. Penjelasan seperti ini akan membangkitkan kesadaran anak bahwa perbuatan buruk yang tidak ingin dialaminya akan menimbulkan perasaan yang sama bagi orang lain. Dan apalagi bila telah tiba waktunya nanti, kamma buruk berbuah, penderitaan akan mengikuti si pelaku kejahatan.
Menumbuhkembangkan perasaan malu dan takut melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan inilah yang akan menjadi 'pengawas setia' dalam diri setiap orang, khususnya para remaja. Selama dua puluh empat jam sehari, 'pengawas' ini akan melaksanakan tugasnya. Kemanapun anak pergi, ia akan selalu dapat mengingat dan melaksanakan kedua hal sederhana ini. Ia akan selalu dapat menempatkan dirinya sendiri dalam lingkungan apapun juga sehingga akan mampu membahagiakan dirinya sendiri, orangtua dan juga lingkungannya. Orangtua sudah tidak akan merasa kuatir lagi menghadapi anak-anaknya yang beranjak remaja. Orangtua tidak akan ragu lagi menyongsong era globalisasi. Orangtua merasa mantap dengan persiapan mental yang telah diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, pendidikan anak di masa kecil yang sedemikian rumit tampaknya, akan dapat dinikmati hasilnya di hari tua.
Sesungguhnya memang diri sendiri itulah pelindung bagi diri sendiri. Suka dan duka yang kita alami adalah hasil perbuatan kita sendiri. Sebab, oleh diri sendiri kejahatan dilakukan; oleh diri sendiri pula kejahatan dapat dihindarkan. Oleh karena itu, dengan memberikan pengertian yang baik tentang inti pendidikan tersebut kepada anak-anak, diharapkan anak akan dapat membawa diri dan menjaga dirinya sendiri agar dapat tercapai kebahagiaan. Kebahagiaan bagi dirinya sendiri. Kebahagiaan bagi orangtuanya. Kebahagiaan bagi lingkungannya.
CARA MENDIDIK ANAK REMAJA YANG BAIK DAN BENAR DAN HAL-HAL YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN TERHADAP ANAK
Seperti yang banyak kita lihat pada saat sekarang ini. Banyak para remaja yang tidak bisa mengontrol diri dalam bersikap, bertindak, dan melakukan sesuatu. Di sisni sangat dibutuhkan sekali bimbingan dan pengawasam dari orangtua.
Semua orang tua, tentunya menginginkan anak-anaknya menjadi orang yang berguna, berbakti kepada kedua orang tua, sholeh/sholeha, agama serta negara.
Merupakan suatu kewajiban bagi orang tua untuk mendidik anak, agar supaya, jika besar nanti, anak tersebut sesuai dengan apa yang di harapkan. Patuh kepada ajaran-ajaran agama serta tidak melanggar hukum atau norma-norma yang berlaku di masyarakat. Untuk itu, kiranya Anda harus mempunyai cara-cara tersendiri untuk mendidik anak usia remaja yang baik serta berfikir dan beritnda positif ada beberapa cara yaitu sebagai berikut :
1.→ Ajarilah anak untuk mencintai serta menyayangi dirinya sendiri.
Caranya: Perhatikan diri Anda sendiri terlebih dahulu. Selalu sediakan waktu bagi diri Anda pribadi di tengah kesibukan harian Anda. Sediakan waktu bagi Anda untuk berolahraga, merawat diri, serta meluangkan waktu bagi pengembangan pribadi Anda. Sadarkah Anda bahwa orangtua yang tidak menghargai dirinya sendiri akan membesarkan anak dengan sifat serupa!
2.→ Luangkan waktu yang berkualitas setiap hari.
Tunjukkan betapa Anda sungguh bergembira atas kehadirannya. Jadilah ‘Ahli Gembira’ bagi putra-putri Anda. Ubahlah waktu mengerjakan tugas harian menjadi momen yang berharga serta istimewa. Bernyanyi, memeluk, berbagi tawa serta cerita dapat membuat saat-saat biasa menjadi tak terlupakan.
3.→ Jadilah pendengar yang baik
Hal ini bukanlah hal yang mudah bagi orangtua. Betapa sering orangtua menyela serta sibuk dengan nasehat-nasehat bahkan pada saat anak belum selesai berbicara? Simpanlah kekuatiran-kekuatiran Anda pada saat mendengarkan. Cobalah untuk mendengarkan anak Anda sepenuhnya tanpa menghakimi. Anda perlu menahan diri untuk tidak memikirkan atau memberikan pendapat Anda sendiri. Dengarkan mereka dengan hati yang terbuka serta penyayang. Lupakanlah diri Anda serta tempatkanlah diri Anda pada sudut pandang anak Anda. Ajukan pertanyaan-pertanyaan sebagai ganti dari memberikan pendapat. Cara orangtua mendengarkan tanpa menghakimi akan membuat anak merasa diterima serta dimengerti.
4.→ Seringlah tertawa, sebab kegembiraan itu menular!
Anggaplah pada saat ini diri Anda terpilih untuk melakukan tantangan ’30 hari tersenyum bersama keluarga’! Anda akan menyaksikan keajaiban dari kegembiraan serta kasih sayang yang Anda bawa kepada orang-orang di sekitar Anda. Buatlah momen sehari-hari menjadi luar biasa berkat kegembiraan serta semangat yang Anda bawa ke dalamnya.
5.→ Berilah pengakuan serta penghargaan.
Latihlah mulai dari diri Anda sendiri untuk memberikan penghargaan terhadap setiap keberhasilan, bahkan yang paling kecil sekalipun, yang telah Anda lakukan hari ini. Ajarlah diri Anda untuk memberikan penghargaan yang tulus atas tugas-tugas sederhana yang Anda berhasil Anda selesaikan. Penghargaan ini akan memberi semangat baru dalam hidup Anda untuk menjalankan tugas yang lebih besar.
Luangkanlah waktu 5 menit bagi diri Anda setiap harinya untuk memikirkan serta menuliskan kesuksesan-kesuksesan yang telah Anda raih hari ini. Rasakanlah bagaimana hidup Anda berubah, nikmatilah semangat baru yang mengisi setiap kegiatan Anda. Bagikanlah penghargaan ini juga kepada anak-anak Anda. Berikanlah pujian, pengakuan serta penghargaan yang tulus kepada mereka. Ingat, penghargaan yang baik menekankan pada tindakan, bukan pada prestasi yang dicapai.
6.→ Disiplinkan anak dengan hormat.
Ajarkanlah anak turut bertanggung jawab atas tugas-tugas rutin dalam rumah tangga. Anak yang secara aktif turut dilibatkan dalam tugas rutin dalam rumah tangga pada masa dewasanya akan memiliki rasa tanggung jawab yang lebih besar.
Perbaiki kesalahan mereka dengan kelembutan namun Anda harus terus-menerus konsisten. Berikan konsekuensi yang wajar dari pelanggaran dengan tujuan untuk mengajarkan tanggung jawab. Janganlah memarahi apalagi mempermalukan anak di depan orang lain atas kesalahan yang mereka perbuat.
Ajaklah mereka ke tempat sepi untuk berbicara hanya empat mata dengan Anda. Berikan pengertian sejelas-jelasnya mengapa tindakannya salah. Mintalah anak meminta maaf bila ia berbuat salah. Anda pun perlu meminta maaf kepada anak di saat-saat Anda bersalah atau melalaikan janji Anda kepada mereka. Disiplinkanlah anak tanpa menunjukkan kuasa serta kemarahan Anda, maka anak akan belajar tumbuh dengan pengendalian diri yang tinggi. Sampaikan pesan kepada mereka bahwa meskipun perilaku mereka masih perlu ditingkatkan, namun Anda sebagai orangtua tetap menyayangi serta menyukai mereka.
7.→ Berilah ruang bagi putra-putri Anda untuk melakukan kesalahan.
Ingatlah, bahwa setiap orang, apalagi seorang anak, berhak untuk melakukan kesalahan. Kesalahan merupakan bagian dari proses pembelajaran. Temukanlah kebaikan dalam kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan, maka anak Anda akan belajar untuk berani berjuang menghadapi tantangan serta resiko.
8.→ Tanamkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, serta semangat saling membantu.
Tunjukkanlah dalam keseharian Anda bagaimana Anda selalu konsisten dengan nilai-nilai ini. Libatkan juga putra-putri Anda dalam kegiatan sosial yang secara rutin Anda lakukan. Putra-putri Anda pun akan tumbuh dengan karakter positif yang kuat dalam diri mereka.
9.→ Fokuskanlah perhatian Anda pada hal-hal yang berjalan benar.
Milikilah keyakinan yang meneguhkan keluarga Anda di saat-saat sulit. Anak-anak Anda akan belajar menjadi pribadi yang optimis serta bersyukur setiap hari. Latihlah sikap positif dengan menemukan hal-hal positif dalam setiap hari Anda serta bersyukurlah atasnya selalu.
Cintailah anak Anda dengan tulus tanpa syarat, serta ungkapkanlah besarnya kasih sayang Anda tersebut kepada mereka. Anak yang berada dalam kasih sayang yang tulus akan tumbuh dengan lebih bergembira, percaya diri, menyenangkan, serta dapat diandalkan.
Itulah sedikit ideas dari saya semoga bermanfaat serta bisa membantu.
Jika orangtua tidak melakukan hal tersebut maka akan terjadi prilaku yang menyimpang terhadapa anak, seperti akan terjadinya tindakan criminal, seks pranikah, dan pergaulan bebas.
10 Hal yang tidak boleh kita lakukan pada anak kita :
1. Jangan menganggap anak sebagai pribadi yang tidak punya hak suara
Umur mereka memang jauhhh di bawah kita, tapi bukan berarti mereka tidak boleh berpendapat. Hargailah mereka sebagai manusia yang punya hak suara, walaupun mungkin terkadang pendapat mereka masih terlalu naif. Tapi dengan memberi kesempatan bersuara, mereka merasa dihargai, dan itu akan membuat mereka senang. Contoh sederhana, ketika membeli baju,sepatu atau keperluan mereka yang lain. Tanyalah pada mereka, model atau warna seperti apa yang mereka inginkan. Kalau misal tidak sesuai dengan pilihan kita, berilah mereka alasan yang tepat, sehingga mereka tidak tersinggung dan tetap merasa dihargai dan dihormati sebagai pribadi.
2. Jangan membentak atau mencaci maki anak
Anak yang hiperaktif kadang disimpulkan sebagai anak yang nakal. Sehingga membuat orangtua tanpa sadar marah dan membentaknya, bahkan di tempat umum. Atau yang sudah punya anak usia di atas 5 tahun, walaupun bukan anak hiper, bisa membuat orangtua senewen. Karena seusia itu anak mulai berusaha menunjukkan jati dirinya sebagai "anak yang sudah besar" (menurut mereka tapi kadang bisa membuat kita kewalahan! Tapi se'nakal' apapun anak, jangan dibentak ya friends.. apalagi di depan orang banyak. Karena itu bisa membuat anak malu, minder atau tidak percaya diri. Apalagi kalau orangtua sampai mengeluarkan kata-kata yang merendahkannya, seperti (maaf) bodoh, anak tidak berguna, atau caci makian. Kata-kata itu bisa diserap dan dicamkan dalam pikiran mereka, sehingga seumur hidup akan merasa seperti itu. Kenapa? Karena yang mengatakan itu adalah orangtuanya sendiri! Bahaya kan.... :(
3. Jangan memukul
Yang ini berbahaya sekali! Jangan main fisik ya friends...kasian anaknya. Kalau sudah keterlaluan sekali, bolehlah kita lakukan sesekali tapi yang masih sebatas wajar. Seperti menjewer telinga, mencubit (tapi jangan keras-keras ya)...:) Yang jangan dilakukan, memukul badannya dengan alat. Aku punya sahabat cewek, yang mulai kelas 2 SD sering dipukuli ayahnya. Nilai ulangannya bagus-bagus, tapi suatu kali dia dapat jelek,karena dia kurang teliti. Sepulang sekolah, langsung dipukuli ayahnya dengan menggunakan sapu lidi, sampai kaki dan tangannya memar-memar. Kuharap itu tidak terjadi pada kita ya friends. Menghukum anak, terkadang memang perlu, tapi tidak harus dengan hukuman fisik seperti itu. Sahabatku tersebut bercerita, sejak dipukuli karena ulangan jelek itu, ayahnya sering sekali memukulinya, hanya karena masalah kecil saja. Itu menyebabkan dia jadi pendiam, selalu merasa tidak nyaman dan takut bila bertemu ayahnya, dan jadi pribadi yang tidak semestinya. Dia jadi gadis yang introvert, padahal kenyataannya dia bukan tipe seperti itu. Ini adalah kisah nyata yang harus kita perhatikan friends. Anak punya kepribadian sendiri, tapi perlakuan atau didikan orangtua yang salah, akan menyebabkan anak berkembang menjadi pribadi yang tidak seharusnya.
4. Jangan merasa sebagai orangtua selalu benar
Usia kita lebih tua dari mereka, tapi bukan berarti kita selalu benar. Bila kita memang salah, kita harus mengakui itu secara gentleman, jangan malu mengakui salah di depan anak. Dengan melakukan itu, secara tidak langsung kita mengajari mereka untuk melakukan hal yang sama, berani mengakui kesalahan. Ada orangtua yang tidak mau melakukan itu, gengsi sama anak....katanya. Akhirnya, untuk menutupi malu, dia malah marah-marah pada anaknya. Wah, wah, wah....sikap seperti itu jangan dicontoh ya friends! Mengakui kesalahan tidak akan menurunkan martabat kita sebagai orangtua kok...malah anak akan bangga punya orangtua seperti itu...percaya deh!
5. Jangan memaksa anak melakukan sesuatu yang orangtua juga tidak mau melakukan
Apa maksudnya?
Aku beri contoh saja ya, supaya lebih jelas. Ada seorang anak tidak mau makan sayur, ayahnya marah besar. Sang ayah mengomel panjang lebar tentang manfaat sayur, bahkan saking panjang lebarnya, sampai dibahas berapa uang yang dikeluarkan untuk belanja lauk dan sayur itu. Tujuan ayah baik, supaya anak itu mau makan. Akhirnya omelan ayah berhasil, si anak mau makan sayur walaupun harus diiringi derai air mata karena merasa tersudut. Beberapa hari kemudian, kejadian di meja makan terjadi lagi. Si anak menawari ayahnya masakan sayur buatan ibunya. Ayahnya diam saja. Sang ibu mengetahui situasi tersebut langsung berkomentar, "Percuma kamu kasih itu ke bapak, Nak...bapakmu itu dari dulu nggak suka sayur!" Nah lhoooo...apa-apaan ini...? Si anak hanya bisa bengong... :) Sudah mengomel panjang lebar, sampai anak sesenggukan, tapi ternyata dia sendiri tidak mau melakukan itu juga! Kalau mau anaknya melakukan sesuatu, jadilah contoh yang baik!
6. Jangan membandingkan
Ini juga sering kita lakukan, maksudnya untuk memacu semangat anak, tapi hasilnya malah kadang membuat anak jadi tertekan dan semakin tidak percaya diri. "Anaknya bu A itu lho, pinter melukis, lha kamu nggambar kok amburadul kayak gitu!" Atau kalimat ini "Si B itu lho selalu juara, kamu kok bodoh sekali sih...belajar donk!" Kebiasaan membandingkan itu bila tidak dihentikan mulai dari sekarang, sampai anak dewasa akan tetap terjadi. "Si C punya jabatan tinggi di kantornya, mobilnya sekarang 2, lha kamu kapan bisa seperti itu?" :( Memberi semangat pada anak itu perlu ya friends....tapi tidak harus memakai cara seperti itu. Yang mungkin terjadi malah anak akan semakin ragu akan kemampuannya sendiri. Mungkin bisa dengan kata-kata penyemangat seperti ini, "Nak..belajar dan berlatih terus ya, supaya lukisanmu semakin bagus." atau "Kalau kamu ingin bisa juara kelas, harus rajin belajar ya. Ayo ibu temani... Lebih manis kan friends...hehe.
7. Jangan jadi polisinya
Apalagi nih...? Kelihatannya serem ya...hahaha... Orangtua sering kali bersikap seperti polisi. Sampai dewasa, anak memerlukan bimbingan orang tuanya. Karena itu, ketika berbicara dengan mereka tentang suatu hal, jangan seperti polisi yang sedang menginterograsi seorang penjahat...tapi bicaralah sebagai sahabat. Nilai ulangan jelek, jangan langsung menuduhnya macam-macam...tapi tanyalah baik-baik apa kesulitannya. Berkelahi dengan teman, tanyalah dengan sabar tentang duduk perkaranya. Apabila kita menanyai dengan cara menekan bahkan menuduhnya macam-macam, anak akan enggan bercerita tentang segala hal pada kita. Itu akan membuat hubungan anak dan orangtua semakin renggang dan tidak ada keterbukaan lagi.
8. Jangan menghalangi impian anak
Bila anak mempunyai hobby atau impian yang ingin dikembangkan, jangan dihalangi! Ada seorang ibu di sekolah anakku bercerita tentang ekskul yang diikuti anak laki-lakinya. Ada banyak sekali jenis ekskul, tapi si anak mintanya ikut bina vokalia. Sang ibu bercerita bahwa si anak diomeli waktu di rumah. "Oalah Nak...lha wong cowok kok ikut nyanyi! Mbok yaikut karate apa futsal gitu lhoooo..." Mungkin ibu ini takut, kalau ikut nyanyi, anaknya jadi kurang macho kali yaaa...:D Kalau saya jadi ibu itu, akan saya tanyai si anak. Apa alasannya ikut kegiatan itu, keinginan sendiri apa dipengaruhi temannya. Serius apa tidak, karena mulai usia dini harus kita didik supaya anak tidak setengah-setengah bila melakukan sesuatu. Bila dari sederet pertanyaan tadi, si anak memang serius memilih itu, akan aku dukung. Kita tidak tahu masa depan mereka seperti apa, kita hanya perlu membimbing dan mengarahkan. Jangan membatasi atau menghalangi! Biarkan mereka melengkapi dirinya dengan berbagai ketrampilan, berbagai talenta, yang salah satunya pasti akan membawa mereka pada kesuksesan hidup di kemudian hari. Jadi biarkan mereka ikut berbagai kegiatan yang positif, dampingilah mereka untuk menggali apa sebenarnya bakat mereka.
9. Jangan membalas dendam
Kadang ada orangtua yang punya pengalaman buruk di masa kecilnya. Mungkin oleh orangtuanya dulu sering dipukuli, sering dimaki...atau sederet pengalaman buruk lainnya. Dulunya mereka tidak kuasa menentang orangtuanya, akhirnya ketika punya anak, dia melampiaskan 'kemarahan' masa kecilnya dengan cara melakukan hal yang sama pada keturunannya. Waduuuhhhh...bahaya ini! Kalau memang di antara kalian ada yang punya masa kecil suram seperti contoh di atas, ketika punya anak, justru yang harus dilakukan adalah....JANGAN MELAKUKAN ITU PADA ANAK ANDA. Supaya mereka tidak punya masa kecil yang suram juga seperti anda. Dan berusahalah untuk memaafkan orangtua anda...karena sebenarnya maksud mereka baik, ingin anaknya berhasil dan sukses seperti orang lain, tapi mungkin cara mereka kurang tepat. Dengan memaafkan mereka...dendam masa kecil itu akan sirna.
10.Jangan memaksa di luar kemampuan anak
Sebagai contoh yang sering terjadi di jaman sekarang ini. Melihat acara pencarian bakat di televise kadang membuat orangtua bermimpi, "Seandainya anakku bisa seperti itu. Pasti bahagia deh!" Itu bukan pendapat yang salah, tapi yang perlu diingat...anak kita punya minat dan bakat dibidang itu apa tidak. Bila tidak, ya jangan dipaksa...masih banyak kok bidang lain yang bisa ditekuni anak untuk jadi orang sukses. Ada lho yang saking pinginnya punya anak jadi artis, si anak dipaksa untuk ikut berbagai audisi. Padahal si anak tidak minat sama sekali, dan 'sebenarnya' orangtuanya juga sadar kalau si anak tidak berbakat pula. Tapi kenapa memaksa...? Itu semata karena ambisi orangtua! Anak jadi tertekan, murung, tidak happy menjalaninya, karena itu bukan pilihannya, kasihan kan..
Langganan:
Postingan (Atom)